Gift (Anugerah) Nov ‘09

Gift Nov ‘09


Ahh…, so I’m trapped…
Into this imperfect embodiment
Without fearing the upcoming downfall
Should I rise…, against the rule of nature?

And step in…, to the door of eternity…
But…, what if ‘He’ was right?

Even if the wish is granted… Can I bear to live…
For the next thousand years … but without you …?

Witnessing spring and summer within your eyes
Another late conversation until you falls asleep…
Witnessing how the season change until the new leaves comes
Everyday would be so precious…

As the answer remains stay
People began to learn
As one after another…,
…sign come even in silent…

I began to understand… I began to certain…
So this is what my heart said for the very first time

My death is a gift, my defect is a fortune
As time and aging become my precious treasure
So I’m not afraid anymore,
Let’s stay remain until the end of the day

Witnessing spring and summer within your dazzling smiles
Another late conversation until you falls asleep…
Witnessing how the season changes until your last hair turning into white…,
Everyday would be so precious…

My death is a gift, my defect is my fortune
As I began to accept the truth,
Let’s live a life without a single regret
And stay remain until the end of that day

Translation

Ahh …, ternyata aku terjebak …
Ke dalam perwujudan tidak sempurna ini
Tanpa takut akan kejatuhan yang akan datang
Haruskah aku bangkit …, melawan hukum alam?

Dan langkah menuju…, keabadian …
Tapi …, bagaimana jika ‘Ia’ benar?

Meskipun keingininan itu dikabulkan … Dapatkah aku hidup…
Tuk seribu tahun lagi… tapi tanpamu …?

Menyaksikan musim semi dan musim panas di kedua matamu yang bercahaya
Percakapan hingga larut malam hingga kau jatuh tertidur …
Menyaksikan bagaimana musim berganti hingga daun-daun baru bermunculan
Setiap hari akan begitu berharga …

Sebagaimana jawaban itu tetap terdiam
Orang-orang mulai belajar
Sebagaimana satu demi satu …,
… tanda-tanda itu datang meski dalam diam …

Kita mulai mengerti … kita mulai yakin …
Jadi inilah apa yang dikatakan oleh hatiku sedari pertama

Kematianku adalah anugrah, kelemahanku adalah keberuntungan
Sebagaimana waktu dan menjadi tua adalah hartaku yang paling berharga
Aku tidak takut lagi,
Mari kita bertahan hingga akhir hari

Menyaksikan musim semi dan musim panas di dalam senyummu yang bersinar
Percakapan hingga larut malam hingga kau jatuh tertidur …
Menyaksikan bagaimana musim berubah hingga rambutmu terakhirmu berubah menjadi putih …,
Setiap hari akan sangat berharga …

Kematianku adalah anugrah, kelemahanku adalah keberuntunganku
Sebagaimana aku mulai menerima yang sesungguhnya,
Mari hidup tanpa sebuah penyesalan sekalipun
Dan bertahan hingga akhir hari itu

Ahh …, jadi aku terjebak … 

Ke ini perwujudan tidak sempurna

Tanpa takut akan kejatuhan mendatang

Haruskah aku bangkit …, melawan hukum alam?

Dan langkah di …, ke pintu keabadian …

Tapi …, bagaimana jika ‘Dia’ benar?

Bahkan jika ingin sudah diberikan … Dapatkah saya betah tinggal …

Untuk seribu tahun ke depan … tapi tanpa kamu …?

Menyaksikan musim semi dan musim panas dalam mata Anda

Percakapan lain terlambat sampai Anda jatuh tertidur …

Menyaksikan bagaimana perubahan musim sampai daun baru datang

Sehari-hari akan sangat berharga …

Sebagai jawabannya tetap tinggal

Orang-orang mulai belajar

Sebagai satu demi satu …,

… tanda datang bahkan dalam diam …

Kami mulai mengerti … kita mulai tertentu …

Jadi ini adalah apa yang hati saya mengatakan untuk pertama kalinya

Kematian saya adalah hadiah, cacat saya adalah keberuntungan

Sebagai waktu dan umur menjadi harta berharga saya

Jadi saya tidak takut lagi,

Mari kita tinggal tetap sampai akhir hari

Menyaksikan musim semi dan musim panas dalam yang mempesona Anda tersenyum

Percakapan lain terlambat sampai Anda jatuh tertidur …

Menyaksikan bagaimana perubahan musim terakhir Anda sampai rambut berubah menjadi putih …,

Sehari-hari akan sangat berharga …

Kematian saya adalah hadiah, cacat saya adalah keberuntungan saya

Saat aku mulai menerima kebenaran,

Mari kita hidup tanpa sebuah penyesalan yang tunggal

Dan tinggal tetap sampai akhir hari itu

This entry was published on December 24, 2010 at 7:15 pm. It’s filed under Art, Poetry, wisdom and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: